Selasa, 02 Desember 2014

KEBODOHAN YANG MENGHAMBAT


oleh : I Nengah Boy Irawan (mahasiswa S2 Pendidikan Dasar Unesa)

KEBODOHAN YANG MENGHAMBAT
Saya adalah seorang siswa yang tidak memiliki kemampuan yang mumpuni di mata pelajaran matematika, matematika merupakan momok yang sangat sulit bagi diri saya, namun saya tetap berusaha dan berusaha untuk mencoba terus mempelajari mata pelajaran tersebut. Pantang menyerah adalah kata yang ingin selalu kukatan ketika aku mempelajari matematika.
            Tak dipungkiri memang ketidakmampuan saya dalam pelajaran matematika membuat saya menghadapi banyak hambatan terutama ketika mengikuti seleksi, ujian, dari sejak SD sampai dengan saat ini. Saya merasa ada yang salah dalam diri saya, ini adalah kelemahan yang sangat fatal.
            Ketika duduk di SD pelajaran dasar menghitung selalu saya dapatkan, saya begitu senang berhitung, mengali, membagi dan mengurangi… semua saya lakukan dengan penuh semangat… setiap tugas yang diberikan guru baik tugas sekolah maupun tugas di rumah selalu dapat saya kerjakan dengan baik…  namun setelah  naik kelas kekelas IV SD kesulitan dan kendala dalam menempuh proses pembelajaran matematika mulai saya rasakan. Membagi adalah hal yang paling membuat saya bingung saat itu apalagi guru saya saat itu sudah mulai mengajarkan operasi pembagian bilangan diatas 100 dengan menggunakan teknik bagi kurung. Saya  merasa pusing, jenuh dan bingung, kebingungan itu membuat saya menjadi merasa takut tidak bisa mengerjakan tugas-tugas. Saya merasa mulai teringgal dan merasa terasingkan dari proses pembelajaran matematika dan kadang saya merasa minder karenanya, lebih lebih sang guru saat itu sudah tidak lagi memperhatikan saya lagi dan sang guru pun lebih sibuk memperhatikan teman-teman saya yang pandai matematika.
            Setelah kelas VI SD saya dihadapkan pada EBTANAS, seperti biasa gurupun memulai kegiatan tambahan belajar untuk mempersiapkan kemampuan siswa menghadapi EBTANAS, lagi-lagi pada masa ini saya mengalami tekanan dan rasa bingung pada mata pelajaran matematika. Kebingungan membuat saya semakin kacau dalam menghadapi pelajaran matematika, mencoba tuk terus belajar namun ketika sudah paham, tiba-tiba soal yang sudah saya pahami mengalamai perubahan, karena memang saat itu saya kita penilaian kayaknya dibuat agar siswa mampu mengerjakan beberapa tipe soal yang lebih rumit. Namun syukurlah saat itu NEM matematika saya lumayan cukup baik dan memperoleh peringkat II sebagai lulusan terbaik saat itu.
            Kemudian setelah lulus SD, saya melanjutkan ke SMP, saya bersekolah pada SMP N 1 Praya Timur, saya begitu bersemangat dan berharap pada jenjang pendidikan ini saya memperoleh pencerahan mengenai pelajaran matematika, namun apa yang terjadi semua tidak sesuai harapan, kebingungan melanda lagi, tingkat materi pelajaran matematika semakin membuat saya depresi bahkan membuat diri saya malu dan terkadang merasa terasingkan dari siswa-siswa lain yang pandai matematika dan ditambah lagi dengan adanya mata pelajaran fisika. Pada saat pelajaran matematika dan fisika, saya sering ditertawakan oleh teman-teman saya karena tidak bisa sama sekali menjawab pertanyaan guru saat guru memberikan pertanyaan secara mencongak. Satu demi satu materi tidak dapat aku pahami, nilai bahkan rata-rata dibawah 5 dan sering juga mendapatkan nilai 0, karena memang pada saat itu pelajaran matematika SMP sudah mulai mempelajari materi aljabar, geomteri, dll, fisikapun mulai membuat saya beban saya bertambah. Sampai suatu saat guru bertanya kepada saya dan berkata “kenapa nilai matematika dan fisikamu hancur, mungkin kamu malas mengulang di rumah ya” kata-kata guruku itu membuatku terpukul. Sejak saat itu aku mulai muak dan menjadi anak yang malas dalam mengikuti pelajaran matematika, hal itu saya tunjukkan dengan sikap-sikap aneh seperti mengelompokkan diri pada siswa-siswa lainnya yang senasib dengan saya dan membuat kesibukan sendiri. Gurupun mulai mengacuhkan saya, jangan menanyakan apa yang menjadi kesulitan saya, sang gurupun ogah untuk menengok kearah meja saya. Saya terdiam dan terkadang sedih, ketika sang guru pun kini sudah mulai memilih-milih siswa kesayangannya. Demikian hal tersebut terus menerus terjadi saat saya menempuh pendidikan di jenjang SMP hingga lulus SMP. Dan saya memperoleh nilai NEM matematika dan fisika SMP pun pas-pasan.
            Tak lama setelah memperoleh Ijazah SMP, saya pun mencoba untuk melanjutkan sekolah ke Sekolah Teknik Menengah jurusan elektronik. Pilihan ini saya didasarkan karena saya memiliki hobby mengotak-atik barang-barang elektronik seperti radio, tape. Dengan penuh semangat dan percaya diri saya mencoba untuk mendaftar dan sampailah saya pada tahap seleksi ujian tulis. Masalah pun dating, materi ujian tulis lebih banyak berisi butir soal matematika dan fisika. Saya bingung dan tidak bisa menjawab banyak butir soal. Secara tidak sengaja pada saat ujian saya mendengarkan percakapan sesorang, bahwa criteria kelulusan ditentukan oleh nilai matematika yang tertera pada ijazah dab hasil tes, hal tersebut membuat saya pesimis bias lulus seleksi ujian. Apa daya harapan tinggal harapan, harapan pupus dan kandas, saya dinyatakan tidak lulus seleksi. Saya kecewa dan berkata dalam hati “mengapa semua ini begitu sulit gara-gara satu hal kenapa skill dan keterampilan dalam bidang elektronik tidak mendapatkan forsi nilai yang  tinggi, tapi justru matematika dan fisikalah yang menjadi tolak ukur dalam menentukan kelulusan”. Namun harapan masih ada, saya mencoba mendaftar kebeberapa sekolah lain yang, namun saat itu penerimaan siswa baru telah ditutup. Hal ini membuat saya berhenti sekolah dan menganggur selama satu tahun. Dan pada tahun berikutnya saya akhirnya dapat bersekolah pada Sekolah Menengah Pariwisata Jurusan Perhotelan.
            Pada saat menempuh study di Sekolah Menengah Pariswisata, saya lagi-lagi dihdapkan pada mata pelajaran Matematika, hal ini membuat saya semakin khawatir. Suatu saat saya membuat ulah kepada guru matematika saya, saat itu saya mengejek guru saya dengan mengeluarkan kata-kata “ Maaf pak guru saya mau bertanya apakah pelajaran persamaan linear ini berlaku atau dipakai ketika kita kerja di Hotel atau restoran, setau saya paling kita ngitung duit atau kebutuhan hotel dan restaurant lainnya, kayaknya ini ilmu tidak dipakai deh pak” tersentak wajah gurupun memerah dan memarahi saya dan saya disuruh keluar, sang guru berkata “ Hai! Nengah kalo kamu tidak butuh dengan pelajaran ini, silahkan kamu keluar” saya pun segera keluar untuk menghindar dari kemarahan guru, namun saya keluar ke ruangan BP dan menceritakan bahwa saya telah membikin guru matematika marah dan segera meminta solusi. Sang guru BP pun segera menindaklanjutinya dan memanggil guru matematika tersebut. Kami berdua dipertemukan di ruang kepala sekolah pada saat keluar main. Sambil menangis tersedu-sedu saya meminta maaf kepada guru matematika dan bercerita panjang lebar tetang alasan  mengapa saya melontarkan kata-kata tersebut dan meminta agar kasus ini tidak disampaikan kepada kedua orang tua saya dirumah. Kepala sekolah, guru BP dan guru matematika pun menenangkan saya dan menyemangati saya serta memberikan banyak nasehat-nasehat. Mulai saat itu saya mencoba bersikap suka dan patuh dalam mengikuti pelajaran matematika, walaupun udah tidak mengerti sama sekali. Dan akhirnya ujian kelulusanpun tiba, guru matematika saya mendekati saya dan memberikan sedikit pembekalan dan tips tentang cara menjawab ujian matematika nanti, dan saya pun mendengarkan dengan seksama. Ujian pun tiba, seperti biasa kebingungan melanda, menghitungpun sudah kulakukan namun apada daya jawaban tak bias kutemukan dan malah makin membuat kehabisan waktu. Akhirnya ku ambil keputusan untuk menjawab soal secara hantam kromo dan abal-abal. Tibalah saat pengumuman nilai hasil ujian, Guru mengumumkan bahwa nilai ujian telah ditempel pada papan pengumuman, dengan harap-harap cemas saya bersama teman-teman berlarian menuju papan pengumuman. Saya  mulai mencari nilai permata pelajaran  di papan pengumuman, satu persatu nilai telah kubaca dan hasilnya cukup memuaskan, namun setelah tiba pada bagian pengumuman mata pelajaran matematika, saya terkejut, mukaku memerah karena menahan malu, nilai matematika yang saya peroleh hanya 1,5 dan merupakan nilai terendah. Salah satu guru mendekati saya, mungkin dia tahu bahwa saya lagi sedih, sang guru berkata “ ya udalah nak, inilah kemampuanmu. Jangan bersedih disatu satu mata pelajaran nilaimu jelek tapi coba lihat di mata pelajaran lain nilaimu cukup gemilang”.  Saya berkata kepada guru tersebut “ pak seandainya saja saya mendapatkan nilai 4 atau 3 saja maka saya akan memperoleh nilai rata-rata tertinggi, karena pada mata pelajaran lain saya memperoleh nilai yang cukup baik. Saya pulang dengan rasa kecewa dan berkata dalam hati “ mengapa aku begitu bodoh dalam pelajaran ini, mengapa otakku nggak  kuat kenapa…kenapa.. dan kenapa…”
            Pengalaman pahit ini terus menghantui sampai saat ini, setiap mengikuti seleksi rasa cemas akan ketidakmampuan di bidang matematika, fisika dan kimia selalu menghantui. Akankah  hal ini akan terus menghambatku, kapan saya bisa menjadi pintar dalam bidang hitung-menghitung, semuanya masih tanda Tanya.