oleh : I Nengah Boy Irawan (mahasiswa S2 Pendidikan Dasar Unesa)
Saya adalah seorang siswa
yang tidak memiliki kemampuan yang mumpuni di mata pelajaran matematika, matematika
merupakan momok yang sangat sulit bagi diri saya, namun saya tetap berusaha dan
berusaha untuk mencoba terus mempelajari mata pelajaran tersebut. Pantang
menyerah adalah kata yang ingin selalu kukatan ketika aku mempelajari
matematika.
Tak dipungkiri memang ketidakmampuan
saya dalam pelajaran matematika membuat saya menghadapi banyak hambatan
terutama ketika mengikuti seleksi, ujian, dari sejak SD sampai dengan saat ini.
Saya merasa ada yang salah dalam diri saya, ini adalah kelemahan yang sangat
fatal.
Ketika duduk di SD pelajaran dasar
menghitung selalu saya dapatkan, saya begitu senang berhitung, mengali, membagi
dan mengurangi… semua saya lakukan dengan penuh semangat… setiap tugas yang
diberikan guru baik tugas sekolah maupun tugas di rumah selalu dapat saya
kerjakan dengan baik… namun setelah naik kelas kekelas IV SD kesulitan dan
kendala dalam menempuh proses pembelajaran matematika mulai saya rasakan. Membagi
adalah hal yang paling membuat saya bingung saat itu apalagi guru saya saat itu
sudah mulai mengajarkan operasi pembagian bilangan diatas 100 dengan
menggunakan teknik bagi kurung. Saya
merasa pusing, jenuh dan bingung, kebingungan itu membuat saya menjadi
merasa takut tidak bisa mengerjakan tugas-tugas. Saya merasa mulai teringgal
dan merasa terasingkan dari proses pembelajaran matematika dan kadang saya
merasa minder karenanya, lebih lebih sang guru saat itu sudah tidak lagi
memperhatikan saya lagi dan sang guru pun lebih sibuk memperhatikan teman-teman
saya yang pandai matematika.
Setelah kelas VI SD saya dihadapkan
pada EBTANAS, seperti biasa gurupun memulai kegiatan tambahan belajar untuk
mempersiapkan kemampuan siswa menghadapi EBTANAS, lagi-lagi pada masa ini saya
mengalami tekanan dan rasa bingung pada mata pelajaran matematika. Kebingungan
membuat saya semakin kacau dalam menghadapi pelajaran matematika, mencoba tuk
terus belajar namun ketika sudah paham, tiba-tiba soal yang sudah saya pahami
mengalamai perubahan, karena memang saat itu saya kita penilaian kayaknya
dibuat agar siswa mampu mengerjakan beberapa tipe soal yang lebih rumit. Namun
syukurlah saat itu NEM matematika saya lumayan cukup baik dan memperoleh
peringkat II sebagai lulusan terbaik saat itu.
Kemudian setelah lulus SD, saya
melanjutkan ke SMP, saya bersekolah pada SMP N 1 Praya Timur, saya begitu
bersemangat dan berharap pada jenjang pendidikan ini saya memperoleh pencerahan
mengenai pelajaran matematika, namun apa yang terjadi semua tidak sesuai
harapan, kebingungan melanda lagi, tingkat materi pelajaran matematika semakin
membuat saya depresi bahkan membuat diri saya malu dan terkadang merasa
terasingkan dari siswa-siswa lain yang pandai matematika dan ditambah lagi
dengan adanya mata pelajaran fisika. Pada saat pelajaran matematika dan fisika,
saya sering ditertawakan oleh teman-teman saya karena tidak bisa sama sekali
menjawab pertanyaan guru saat guru memberikan pertanyaan secara mencongak. Satu
demi satu materi tidak dapat aku pahami, nilai bahkan rata-rata dibawah 5 dan
sering juga mendapatkan nilai 0, karena memang pada saat itu pelajaran
matematika SMP sudah mulai mempelajari materi aljabar, geomteri, dll, fisikapun
mulai membuat saya beban saya bertambah. Sampai suatu saat guru bertanya kepada
saya dan berkata “kenapa nilai matematika dan fisikamu hancur, mungkin kamu
malas mengulang di rumah ya” kata-kata guruku itu membuatku terpukul. Sejak
saat itu aku mulai muak dan menjadi anak yang malas dalam mengikuti pelajaran
matematika, hal itu saya tunjukkan dengan sikap-sikap aneh seperti
mengelompokkan diri pada siswa-siswa lainnya yang senasib dengan saya dan
membuat kesibukan sendiri. Gurupun mulai mengacuhkan saya, jangan menanyakan
apa yang menjadi kesulitan saya, sang gurupun ogah untuk menengok kearah meja
saya. Saya terdiam dan terkadang sedih, ketika sang guru pun kini sudah mulai
memilih-milih siswa kesayangannya. Demikian hal tersebut terus menerus terjadi
saat saya menempuh pendidikan di jenjang SMP hingga lulus SMP. Dan saya
memperoleh nilai NEM matematika dan fisika SMP pun pas-pasan.
Tak lama setelah memperoleh Ijazah
SMP, saya pun mencoba untuk melanjutkan sekolah ke Sekolah Teknik Menengah
jurusan elektronik. Pilihan ini saya didasarkan karena saya memiliki hobby
mengotak-atik barang-barang elektronik seperti radio, tape. Dengan penuh
semangat dan percaya diri saya mencoba untuk mendaftar dan sampailah saya pada
tahap seleksi ujian tulis. Masalah pun dating, materi ujian tulis lebih banyak
berisi butir soal matematika dan fisika. Saya bingung dan tidak bisa menjawab
banyak butir soal. Secara tidak sengaja pada saat ujian saya mendengarkan percakapan
sesorang, bahwa criteria kelulusan ditentukan oleh nilai matematika yang
tertera pada ijazah dab hasil tes, hal tersebut membuat saya pesimis bias lulus
seleksi ujian. Apa daya harapan tinggal harapan, harapan pupus dan kandas, saya
dinyatakan tidak lulus seleksi. Saya kecewa dan berkata dalam hati “mengapa
semua ini begitu sulit gara-gara satu hal kenapa skill dan keterampilan dalam
bidang elektronik tidak mendapatkan forsi nilai yang tinggi, tapi justru matematika dan fisikalah
yang menjadi tolak ukur dalam menentukan kelulusan”. Namun harapan masih ada,
saya mencoba mendaftar kebeberapa sekolah lain yang, namun saat itu penerimaan
siswa baru telah ditutup. Hal ini membuat saya berhenti sekolah dan menganggur
selama satu tahun. Dan pada tahun berikutnya saya akhirnya dapat bersekolah
pada Sekolah Menengah Pariwisata Jurusan Perhotelan.
Pada saat menempuh study di Sekolah
Menengah Pariswisata, saya lagi-lagi dihdapkan pada mata pelajaran Matematika,
hal ini membuat saya semakin khawatir. Suatu saat saya membuat ulah kepada guru
matematika saya, saat itu saya mengejek guru saya dengan mengeluarkan kata-kata
“ Maaf pak guru saya mau bertanya apakah pelajaran persamaan linear ini berlaku
atau dipakai ketika kita kerja di Hotel atau restoran, setau saya paling kita
ngitung duit atau kebutuhan hotel dan restaurant lainnya, kayaknya ini ilmu
tidak dipakai deh pak” tersentak wajah gurupun memerah dan memarahi saya dan
saya disuruh keluar, sang guru berkata “ Hai! Nengah kalo kamu tidak butuh
dengan pelajaran ini, silahkan kamu keluar” saya pun segera keluar untuk
menghindar dari kemarahan guru, namun saya keluar ke ruangan BP dan
menceritakan bahwa saya telah membikin guru matematika marah dan segera meminta
solusi. Sang guru BP pun segera menindaklanjutinya dan memanggil guru
matematika tersebut. Kami berdua dipertemukan di ruang kepala sekolah pada saat
keluar main. Sambil menangis tersedu-sedu saya meminta maaf kepada guru
matematika dan bercerita panjang lebar tetang alasan mengapa saya melontarkan kata-kata tersebut
dan meminta agar kasus ini tidak disampaikan kepada kedua orang tua saya
dirumah. Kepala sekolah, guru BP dan guru matematika pun menenangkan saya dan
menyemangati saya serta memberikan banyak nasehat-nasehat. Mulai saat itu saya
mencoba bersikap suka dan patuh dalam mengikuti pelajaran matematika, walaupun
udah tidak mengerti sama sekali. Dan akhirnya ujian kelulusanpun tiba, guru
matematika saya mendekati saya dan memberikan sedikit pembekalan dan tips
tentang cara menjawab ujian matematika nanti, dan saya pun mendengarkan dengan
seksama. Ujian pun tiba, seperti biasa kebingungan melanda, menghitungpun sudah
kulakukan namun apada daya jawaban tak bias kutemukan dan malah makin membuat
kehabisan waktu. Akhirnya ku ambil keputusan untuk menjawab soal secara hantam
kromo dan abal-abal. Tibalah saat pengumuman nilai hasil ujian, Guru
mengumumkan bahwa nilai ujian telah ditempel pada papan pengumuman, dengan
harap-harap cemas saya bersama teman-teman berlarian menuju papan pengumuman. Saya mulai mencari nilai permata pelajaran di papan pengumuman, satu persatu nilai telah
kubaca dan hasilnya cukup memuaskan, namun setelah tiba pada bagian pengumuman
mata pelajaran matematika, saya terkejut, mukaku memerah karena menahan malu, nilai
matematika yang saya peroleh hanya 1,5 dan merupakan nilai terendah. Salah satu
guru mendekati saya, mungkin dia tahu bahwa saya lagi sedih, sang guru berkata
“ ya udalah nak, inilah kemampuanmu. Jangan bersedih disatu satu mata pelajaran
nilaimu jelek tapi coba lihat di mata pelajaran lain nilaimu cukup
gemilang”. Saya berkata kepada guru
tersebut “ pak seandainya saja saya mendapatkan nilai 4 atau 3 saja maka saya
akan memperoleh nilai rata-rata tertinggi, karena pada mata pelajaran lain saya
memperoleh nilai yang cukup baik. Saya pulang dengan rasa kecewa dan berkata
dalam hati “ mengapa aku begitu bodoh dalam pelajaran ini, mengapa otakku
nggak kuat kenapa…kenapa.. dan kenapa…”
Pengalaman pahit ini terus
menghantui sampai saat ini, setiap mengikuti seleksi rasa cemas akan
ketidakmampuan di bidang matematika, fisika dan kimia selalu menghantui.
Akankah hal ini akan terus menghambatku,
kapan saya bisa menjadi pintar dalam bidang hitung-menghitung, semuanya masih
tanda Tanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar